Abdullah Ibnu Mas’ud ra.

Nama lengkapnya adalah Abdullah Ibnu Mas’ud Ibnu Ghafil al-Hudzali. Nama julukannya “ Abu Abdirahman”. Ia sahabat ke enam yang paling dahulu masuk islam. Ia hijrah ke Habasyah dua kali, dan mengikut semua peperangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Dalam perang Badar, Ia berhasil membunuh Abu Jahal.

Baca lebih lanjut

Abdullah Ibnu Abbas ra.

Abdullah bin Abbas adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan hadist sesudah Sayyidah Aisyah, ia meriwayatkan 1.660 hadits. Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti harits saudari ummul mukminin Maimunah.

Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan Informan Umat Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah sehingga beliau mempunyai banyak riwayat hadis sahih dari Rasulullah . Beliau ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fikih, genetis Arab, peperangan dan sejarah. Di akhir hidupnya dia mengalami kebutaan, sehingga dia tinggal di Taif sampai akhir hayatnya.

Baca lebih lanjut

Abdullah Ibnu Umar ra.

Periwayatan paling banyak berikutnya sesudah Abu Hurairah adalah Abdullah bin Umar. Ia meriwayatkan 2.630 hadits.

Abdullah adalah putra khalifah ke dua Umar bin al-Khaththab saudara kandung Sayiyidah Hafshah Ummul Mukminin. Ia salah seorang di antara orang-orang yang bernama Abdullah (Al-Abadillah al-Arba’ah) yang terkenal sebagai pemberi fatwa.

Tiga orang lain ialah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin al-Ash dan Abdullah bin az-Zubair.

Ibnu Umar dilahirkan tidak lama setelah Nabi diutus. Umurnya 10 tahun ketika ikut masuk Islam bersama ayahnya. Kemudian mendahului ayahnya ia hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud ia masih terlalu kecil untuk ikut perang. Dan Rasulullah saw tidak mengizinkannya. Tetapi setelah selesai perang Uhud ia banyak mengikuti peperangan, seperti perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta penyerbuan basrah dan Madain.

Baca lebih lanjut

Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian IV) – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Sahabat, belajar meniru kepemurahan Allah dengan berbagi rizki anugrah Allah merupakan inti dari wasiat Syaikh Al-Akbar kali ini. Semoga kita mampu mengamalkannya.

EMPAT

Ibnu Arabi-1Belajarlah untuk memberi, baik ketika engkau sedang lapang maupun sempit, sedang bahagia maupun berduka. Berusahalah untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan. Hal itu akan membuktikan keimananmu kepada Allah. Akan membuktikan bahwa Allah memang telah menetapkan rezeki tiap orang dan penetapan tersebut tidak akan tertukar.

Seorang kikir adalah seorang pengecut. Setan terkutuk berbisik di dalam telinganya bahwa kematianmu masih lama; bahwa dunia ini penuh musuh dimana jika engkau memberi, maka engkau akan menjadi miskin, tidak dihargai dan dihormati orang, dan sendirian; adalah suatu kebodohan memberi banyak kepada orang lain, karena tiada seorangpun tahu apa yang akan terjadi esok hari. Pada seorang berkeadaan sempit, setan mengatakan padanya bahwa ia akan semakin miskin jika memberi kepada orang lain. Tidak ada yang akan menolongnya, dan ia mungkin hanya akan menjadi beban bagi orang lain dan dibenci pula. Kalau begitu ia harus menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan menjadi lebih miskin. Jika bisikan-bisikan setan menawan hatinya, maka ia akan digiring ke tepian api neraka. Sebaliknya, seseorang yang membuka telinganya kepada bisikan-bisikan Allah adalah seseorang yang sedang mendengarkan kata-kata yang penuh berkah, yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya.

Baca lebih lanjut

Mengenal Ilmu Hadits

Salaam Sahabats…
Untuk lebih mengenal Rasulullah Muhammad SAW serta ajaran beliau, hendaknya kita lebih meningkatkan kajian terhadap Al-Hadits dan ilmu tentangnya. Kali ini kami sajikan tulisan agar menambah wawasan kita di seputar Ilmu Hadits. Nah, selamat mengkaji…

Definisi Musthola’ah Hadits

HADITS ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, taqrir, dan sebagainya.

ATSAR ialah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW.

TAQRIR ialah keadaan Nabi Muhammad SAW yang mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau.
Baca lebih lanjut

SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR TEMATIK

Oleh: H. Syamruddin Nst

Salaam Sahabat…

Untuk menambah wawasan Al-Quran, marilah kita simak dan pelajari tulisan berikut…

tafsir quran 1A. Pendahuluan
Ilmu tafsir sudah ada sejak nabi Muhammad SAW. Tipologi tafsir berkembang sedemikian pesat dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan dan konteks. Dasar tipologi atau pengelompokkan terhadap tafsir pun berbeda-beda. Di antara pengelompokan tersebut dan sudah dikenal sejak masa
nabi Muhammad SAW adalah tafsir bi al-atsar, dan banyak yang menyebut tafsir bi al-ma’tsûr atau tafsir riwayah. Pengelompokan ini disebut corak tafsir. Corak tafsir lain adalah tafsir bi al-ra’y. Tafsir bi al-Ma’tsur adalah tafsir yang menggunakan nash dalam menafsirkan, baik al-Qur’an dengan al-Qur’an maupun al-Qur’an dengan sunnah. Dengan singkat, tafsir bi al-ma’tsur adalah tafsir antar nash. Sementara tafsir bi al-ra’y atau dikenal juga dengan tafsir dirayah adalah tafsir yang lebih mengandalkan pada ijtihad yang shahih.1)

Namun ada juga tafsir isyari dan tafsir janggal (gharaib al-tafsir). Tafsir isyari adalah penafsiran al-Qur’an yang berlainan dengan zahir ayat karena ada petunjuk yang tersirat hanya diketahui oleh sebagai ulama atau orang-orang tertentu.2) Tafsir janggal adalah tafsir yang tidak sejalan dengan tafsir pada umumnya.3) Kedua tafsir ini tidak diterima oleh umumnya ulama, hanya orang-orang tertentu yang menerimanya.45

Baca lebih lanjut

Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW

buraq 4Salaam Sahabats…

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad adalah satu di antara peristiwa agung dalam penciptaan makhluk serta kejadian di alam semesta ini. Allah SWT menggambarkan peristiwa ini dalam firman-Nya,

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (TQS.17: 1)

“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (TQS.53:13-18)

Baca lebih lanjut