Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian IV) – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Sahabat, belajar meniru kepemurahan Allah dengan berbagi rizki anugrah Allah merupakan inti dari wasiat Syaikh Al-Akbar kali ini. Semoga kita mampu mengamalkannya.

EMPAT

Ibnu Arabi-1Belajarlah untuk memberi, baik ketika engkau sedang lapang maupun sempit, sedang bahagia maupun berduka. Berusahalah untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan. Hal itu akan membuktikan keimananmu kepada Allah. Akan membuktikan bahwa Allah memang telah menetapkan rezeki tiap orang dan penetapan tersebut tidak akan tertukar.

Seorang kikir adalah seorang pengecut. Setan terkutuk berbisik di dalam telinganya bahwa kematianmu masih lama; bahwa dunia ini penuh musuh dimana jika engkau memberi, maka engkau akan menjadi miskin, tidak dihargai dan dihormati orang, dan sendirian; adalah suatu kebodohan memberi banyak kepada orang lain, karena tiada seorangpun tahu apa yang akan terjadi esok hari. Pada seorang berkeadaan sempit, setan mengatakan padanya bahwa ia akan semakin miskin jika memberi kepada orang lain. Tidak ada yang akan menolongnya, dan ia mungkin hanya akan menjadi beban bagi orang lain dan dibenci pula. Kalau begitu ia harus menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan menjadi lebih miskin. Jika bisikan-bisikan setan menawan hatinya, maka ia akan digiring ke tepian api neraka. Sebaliknya, seseorang yang membuka telinganya kepada bisikan-bisikan Allah adalah seseorang yang sedang mendengarkan kata-kata yang penuh berkah, yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya.

“Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (TQS.42:9)

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (TQS.47:38)

Makna ayat di atas: setelah diajak, diajari, dan dibawa kepada jalan iman, jika engkau mulai atau masih terus menjadi kikir, maka engkau akan kehilangan kedudukanmu, tingkatanmu, dan kasih sayang Allah. Sebaliknya, bagi siapa yang pemurah dan yakin di dalam kepemurahan Allah, akan di bawa kepada kedudukan yang kokoh.

Seseorang yang kikir tidak memahami maksud dari ancaman-ancaman Allah.

“Musa berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih’.” (TQS.10:88)

Ayat di atas merupakan doa Nabi Musa as bagi Fir’aun. Ketika Allah berkehendak menghancurkan Fir’aun dan para pembesar, Nabi Musa as berdoa kepada Allah, Sang Hakim mutlak, kutukan karena kekikiran. Efek dari kutukan itu mengena kepada semua orang Mesir kikir dan pendengki. Mereka mati dalam keadaan miskin dan kelaparan.

Seseorang yang dikutuk karena kekikirannya tidak mendengarkan kata-kata para Rasul Allah saw., yang berkata, “Allah memiliki dua orang malaikat yang berdoa setiap pagi, ‘Wahai, Tuhan kami, perbanyaklah anugerahmu atas orang-orang pemurah, dan ambillah milik orang-orang yang menyimpannya rapat-rapat!”

Pada suatu hari, ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ra. akan memberikan semua harta bendanya kepada Rasulullah Muhammad saw., ia pun ditanya Rasulullah saw., “Apa yang telah engkau sisihkan bagi keluargamu, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku meninggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.” Umar bin Khattab ketika memberikan setengah harta bendanya, ia pun menjawab pertanyaan yang serupa, “Aku meninggalkan setengahnya lagi bagi keluargaku.” Rasulullah Muhammad saw. berkata tentang mereka, “Perbedaan di antara kalian berdua adalah dalam hal merespon pertanyaanku.”

Seseorang yang memberi akan mendapatkan lebih dari Sang pemberi. Si kikir, selain berdosa karena kekikirannya, juga telah menuduh bahwa Allah kikir; ia lebih memilih harta bendanya sebagai pelindung dan pemberi bagi dirinya daripada Allah sang Pemurah. Merupakan dosa besar telah memprasangkai Allah sedemikian dan menyebabkan seseorang tertolak dari rahmat Allah dan kehilangan imannya. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari hal sedemikian. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Karena itu, simpanlah sekedarnya apa-apa yang telah Allah berikan kepadamu. Jangan pernah takut miskin. Allah akan memberikanmu apa-apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu. Tidak ada seorang pemurahpun yang akan dihancurkan dalam kemiskinan karena kepemurahannya.[]

 

Kami haturkan terimakasih kepada mbak Dwi Afriyanti A. Semoga Allah merahmatinya.Amin.

Sumber: What the Seeker Needs, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.

Sumber Naskah:

Notes FB dari sahabat Dwi Afriyanti Arifyanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s